2nd WINNER PRIZE

view gallery

Starting from exploring the culture as well as religious communities of Jayapura, architects combine the function of the building as a spiritual tourism in Papua. With main massing taken from the roof of Papua’s traditional house, the architects creates spaces of the cone shape so it becomes a unique and different spiritual experience. Divided into seven stages of spiritual tourism, the Oasis Deck 1 for a resting area, misionaries bridge is a bridge carrying a reminder that Christianity first W Carl Johan Otto and Geisler, Oasis Deck 2, Jesus Statue is the highest peak of this building where tourists can see the sights around Papua, Hole of brood hall to contemplate our mistakes, Chamber of Pray the place to request prayers like the confessional booth at church, and museums area that tells about the history of religion and the creation of community in Papua. The building is covered by decorative elements taken from the basic shape of Papua musical instrument (Tifa) and Papua Dance (Yospan Dance) affixed with glass with a giant bouvenligh system so it will still has a good air circulation. Pond surrounding the building in addition to the air conditioning as well as a symbolic entry of the first Christianity in Papua by sea. Such shape of the Jesus Statue that looks like hugging, is a symbol of embracing the unified community life in Papua and the unity of cross regions life.

Berawal dari menggali konsep kebudayaan serta religi masyarakat jayapura, arsitek memadukannya dengan fungsi bangunan sebagai wisata rohani di Irian Jaya. Dengan massing utama yang diambil dari atap rumah tradisional jayapura, arsitek menciptakan ruang-ruang dari bentuk kerucut tersebut sehingga menjadi rute rohani yang unik dan memiliki pengalaman berbeda. Terbagi menjadi 7 tahapan wisata rohani yaitu, Oasis Deck 1 untuk istirahat, misionaries bridge adalah jembatan pengingat pembawa agama kristen pertama yaitu Carl W Otto dan Johan Geisler, Oasis Deck 2, Yesus Statue adalah puncak tertinggi bangunan ini dimana kita bisa melihat pemandangan sekeliling Irian Jaya, Hole of brood lorong untuk merenung kesalahan-kesalahan kita, Chamber of Pray tempat untuk memohon doa seperti bilik pengakuan dosa di gereja, dan Area museum yang menceritakan tentang sejarah religi dan terciptanya masyarakat irian jaya. Bangunan ini dilapisi oleh elemen dekoratif yang diambil dari bentuk dasar alat musik papua (Tifa) dan Tarian papua (Tari Yospan) yang ditempel oleh kaca dengan sistem bouvenligh raksasa sehingga tetap memperoleh sirkulasi udara yang baik. Kolam yang mengelilingi bangunan selain sebagai penyejuk udara juga sebagai simbolis masuknya agama kristen pertama di papua lewat jalur laut. Bentuk Patung yesus yang seperti memeluk adalah simbolik dari kehidupan masyarakat papua yang kompak dan hidup lintas suku.

Architect :
Delution Architect

Principal Architect :
Muhammad Egha ST
Hezby Ryandi ST
Sunjaya Askaria ST

Held By
Ikatan Arsitek Indonesia

Project Type :
Competition

Location :
Jayapura, Irian Jaya, Indonesia

Status :
2nd Winner Prize

Site Area :
763m2

Building Area :
270m2

Year
2013


Jesus Statue Monumen Competition at Jayapura,2013